Senin, 26 Maret 2018

Diburu Spanyol, Mantan Presiden Catalunya Ditangkap di Jerman

“Sepandai-pandainya tupai melompat pasti jatuh juga”. Peribahasa tersebut tepat untuk menggambarkan mantan Presiden Catalunya, Carles Puigdemont, yang akhirnya berhasil ditangkap polisi di Jerman setelah melarikan diri ke Belgia dan Finlandia.

Pengacara Carles Puigdemont, Jaume Alonso-Cuevillas, mengonfirmasi penangkapan kliennya oleh Kepolisian Jerman. Melansir dari The Guardian, Minggu (25/3/2018), Puigdemont ditangkap saat menyeberangi perbatasan Jerman dari Denmark.

Alonso-Cuevillas mengatakan, kliennya sedang dalam perjalanan darat menuju Belgia di mana Puigdemont tinggal setelah melarikan diri dari Spanyol. Ia memastikan bahwa Puigdemont saat ini ditahan di salah satu pos polisi di Jerman. 

Sebagaimana diberitakan, Mahkamah Agung Spanyol kembali mengaktifkan surat perintah penahanan internasional (red notice) terhadap Carles Puigdemont pada Jumat 23 Maret ketika pria berkacamata itu mengunjungi Finlandia. Surat serupa diterbitkan bagi lima pemimpin separatis Catalunya.

Kelima pemimpin separatis yang ditangkap adalah mantan juru bicara pemerintah Catalunya sekaligus kandidat presiden, Jordi Trull; mantan Menteri Pembangunan, Josep Rull; mantan Ketua Parlemen Catalunya, Carmen Forcadell; mantan Pimpinan Dewan Hubungan Luar Negeri, Paul Romeva; dan mantan Menteri Ketenagakerjaan Catalunya, Dolors Bassa.

Carles Puigdemont sudah terlebih dahulu kabur ke Brussels, Belgia, saat surat perintah penahanan diterbitkan pada Senin 30 Oktober 2017. Pria berusia 55 tahun itu dituduh Kejaksaan Negeri Spanyol melakukan pelanggaran-pelanggaran dengan ancaman hukuman hingga 25 tahun penjara.

Salah satu dakwaan adalah pengkhianatan terhadap negara di mana Puigdemont mendeklarasikan kemerdekaan wilayah otonomi Catalunya dari Spanyol berdasarkan hasil referendum pada 1 Oktober 2017. Referendum tersebut dianggap tidak konstitusional alias ilegal oleh pemerintah pusat di Madrid.

Pemerintah Pusat Spanyol lantas membubarkan pemerintah wilayah otonomi Catalunya dan menggelar pemilihan umum daerah (pilkada) pada 21 Desember 2017. Namun, dari hasil pemilihan tersebut rakyat masih berpihak kepada partai pro-kemerdekaan pimpinan Carles Puigdemont yang sempat diminta untuk kembali menjadi Presiden Catalunya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar